TRADISI PRA DAN PASCA LEBARAN
Kata “tradisi” menurut kamus ilmiah populer adalah “ kebiasaan turun-temurun” jadi dapat dikatakan bahwa tradisi adalah kebiasaan yang secara turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang suatu teritorial kepada anak cucu mereka. Relasi antara masyarakat dan tradisi tidak bisa dipisahkan, karena suatu tradisi itu ada karena adanya suatu masyarakat, sebagai karya cipta dari masyarakar itu sendiri, dan masyarakat tanpa tradisi bagaikan raga tanpa nyawa, jadi hubungan bisa hubungan antara keduanya saling membutuhkan. Misalanya dalam masalah bodo[1], tradisi yang berlaku di masyarakat indonesia berbeda-beda , karena memang indonesia terdiri dari berbagai suku yang begitu banayk, hal ini mengakibatkan budaya yang berbeda, tradisi yang berbeda pula. Namun ada fenomena yang sudah mengakar di indonesia yaitu mudik (pulang kampung bagi  mereka yang merantau ke kota) , seakan-akan sudah menjadi tradia, agakanya ini dinamakan tradisi yang berskala nasioanal, karena memang mudik menjadi bahan perbincangan nasional setiap tahun. Ada juga tradisi yang berskala teritorial, karena memang tradisi ini tidak menjadi bahan perbincangan nasioanal, hanya diwilayah itu saja. Karena tradisi ini bersifat teritorial, maka antara satu daerah dengan daerah lain berbeda, karena wilayahnya berbeda, namun tidak menutup kemungkinan terjadi kesamaan.
Tradisi si daerah toroh misalnya, sebelum sebelum lebaran(tepatnya satu hari menjelang lebaran) , masyarakat setempat secara serempak pergi menuju makam untuk berziarah kubur, tapi ini hanya terbatas laki-laki saja, atas rekomendasi dari tokoh masyarakat setempat. Kebiasaan seperti ini hanya dilakukan oleh masyarakat nahdhiyyin.
             Adapun ketika tepat hari lebaran, kaum perempuan disibukkan dengan menata ruang tamu, diatur sebagus mungkin, serta dihiasi dengan aneka makanan ringan ringan yang begitu variatif, misalnya marning, pisang goreng, danm sebagainya. Berbeda dengan kaum perempuan, kaum laki-laki disibukkan dengan persiapan untuk pergi ke masjid, tentunya dengna tujuan melaksanakan shalat idul fitri berjamaah, baik besar maupun kecil, tua maupun muda. Namun kaum prempuan tidak ikut shalat jamaah, krena kesibukan mereka menyambut lebaran. Biasanya setelah selesai menjalankan shalat idul fitri, mereka bermushafahah [2]terlebih dahulu di dalam masjid. Barulah setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan memakan nok[3]  yang diantar oleh istri, maupun keluarga mereka. Isinya bisa berupa apa saja, yang terpenting  adalah terciptanya rasa kebersamaan diantara mereka. setelah selesai, mereka langsung menuju lapangan untuk bermushafahah dengan tetangga desa yang dikomandoi oleh tokoh masayarakat. Sementara itu kaum perempuan lebih dahulu berkunjung  ke setiap rumah. Barulah setelah mushafahah selesai, mereka juga ikut  berkunjung  , sama seperti yang dilakukakan oleh kaum perempuan. Biasanya yang menunngu tamu dirumah adalah mereka yang sudah berusia lanjut.
            Adapun hari ketujuh setelah lebaran, ada bodo kupatan, dinamakan demikian karena seluruh masyarakat membuat kupat  setelah sebelumnya puasa sampai hari ketujuh. Acaranya dilangsungkan di masjid atau di mushalla, kupat yang dibawa oleh kaum laki-laki kemudian di kumpulkan menjadi satu, kemudian salah satu tokoh masyarakat memimpin do’a, kemudian barulah kupat tersebut dibagikan kembali, setelah sebelumnya diacak.demikian tradisi yang terjadi di daerah tesebut. Tradisi yang secara turun-temurun diwariskan oleh para pendahulu mereka.

[1] Istilah lain lebaran idul fitri di daerah tersebut
[2] Berasal dari bahasa arab yang berarti bersalam-salaman
[3] Semacam bekal nasiImage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s