A. Istifham dan Kata Tanyanya

PEMBAHASAN

  1. A.  Istifham dan Kata Tanyanya

Istifham adalah [1] طلب حصول ما فى الخارج فى الذهن(berhasilnya barang yang diluar pengetahuan penanya ), dan juga bisa diartikan dengan mencari pengetahuan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.[2]

Contoh: هل قام زيد؟  (apakah Zaid berdiri) dalam hal ini penanya ingin mengetahui berdiri atau tidaknya Zaid.

a)      Adatul istifham, di antaranya adalah:

  1. Hamzah (أ)

Hamzah digunakan untuk mencari pengetahuan tentang dua hal :

  1. Tashawwur, yaitu gambaran tentang mufrad. Dalam hal ini pertanyaan tidak membutuhkan jawaban ya atau tidak. Dan harus disertai dengan lafadz ام

Contoh:

        ا فى الدار ام فى المسجد ؟

Artinya: “ Apakah  orang itu dirumah atau dimasjid?”

Penjelasan:

Yang ditasawwurkan adalah musnad (فى الدار)

  1. Tashdiq, yaitu gambaran tentang nisbah. Dalam hal ini membutuhkan jawaban  Ya atau tidak. Contoh:

افهمت العلم ؟

Artinya: “ Apakah  kamu faham ilmu itu?”

Penjelasan:

Yang ditashdiqkan adalah fiilnya yang berupa lafadz  افهمت

  1. Hal (هل)

Hal digunakan untuk meminta tentang tashdiq, tidak ada yang lain; dan tidak boleh menyebut bandingan perkara yang  ditanyakan dengan hal. Contoh:

هل زيد قائم ؟

Artinya: “ Apakah Zaid berdiri?”

Penjelasan:

Yang ditanyakan adalah tetapnya lafadz قائم ke زيد atau tidak tetapnya.

  1. Man (من)

Man digunakan untuk menanyakan keterangan makhluk yang berakal atau tentang orang. Contoh:

من بنى هذاا لمسجد؟ احمد بنى هذاا مسجد

Adapt istifham pada jumlah istifhamiyah diatas adalah من  yang bertujuan untuk menanyakan siapa yang membangun masjid.

  1. Maa  (ما)

Maa digunakan untuk menanyakan keterangan nama  atau hakikat sesuatu yang bernama.Contoh:

ما الاسراف ؟

Artimya: “ Apakah berlebihan itu?”

  1. Mataa (مَتَى)

Mataa digunakan untuk menanyakan keterangan waktu, baik  yang lalu maupun yang akan datang. Contoh:

متى يعود المسافرون؟

Artinya: “ Kapankah para musafir itu kembali?”

  1. Ayyaana (أيّان)

Ayyaana digunakan untuk menanyakan keterangan waktu yang akan datang secara khusus dan menunjukkan kengerian. Contoh:

يسأونك عن السا عة عيانا مرسها؟

Artinya: “ mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, kapankah terjadinya?” (QS. Al-A’raf:187)

  1. Kaifa (كيف)

Kaifa digunakan untuk menanyakan keterangan keadaan. Contoh:

كيف حالك يا اخي؟

Artinya: “Bagaimana kabarmu wahai saudaraku?”

  1. Aina (أين)

Aina digunakan untuk menanyakan keterangan tempat. Contoh:

اَيْنَ دُجْلَةُ وَاْلفُرَاتُ؟

Artinya: “Di mana sungai Dajlah dan Furat itu?”

  1. Annaa (أنّى)

Annaa mempunyai tiga makna, yaitu bagaimana, dari mana, dan kapan. Contoh:

  • Annaa yang bermakna bagaimana:

اَنَّى تَسُوْدُ اْلعَشِيْرَةُ وَاَبْنَاؤُهَا مُتَخَاذِلُوْنَ؟

Artinya: “Bagaimana bisa terjadi suatu keluarga menjadi nengrat, sedangkan anak-anaknya menjadi orang-orang hina?”

  • Annaa yang bermakna darimana:

اَنَّى لَهُمْ هَذَا اْلمَالُ وَقَدْ كَانُوْا فُقَرَاء؟

Artinya: “Dari mana mereka memiliki harta ini, sedangkan mereka adalah orang-orang fakir?”

  • Annaa yang bermakna kapan:

اَنَّى يَحْضُرُ اْلغَائِبُوْنَ؟

Artinya: “Kapan orang-orang yang pergi itu datang?”

  1. Kam (كم)

Kam digunakan untuk menanyakan keterangan jumlah. Contoh:

كَمْ جُنْدِيًّا فِى اْلكَتِيْبَةِ؟

Artinya: “Berapa prajurit yang tergabung dalam pasukan itu?”

  1. Ayyun (ايّ)

Ayyun digunakan untuk menanyakan keterangan salah satu dari dua hal yang berserikat dalam suatu perkara dan untuk menanyakan tentang waktu, tempat, keadaan, bilangan, makhluk berakal, makhluk yang tidak berakal sesuai dengan lafadz yang disandarnya. Contoh:

اَيُّ اْلأَخَوَيْنِ اَكْبَرُ سِنًّا؟

Artinya: “Siapakah di antara dua bersaudara itu yang lebih tua?”

b)      Penyimpangan Redaksi Istifham

Kadang-kadang redaksi istifham itu keluar dari makna istifham itu keluar dari makna aslinya kepada makna lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimat. Makna yang lain tersebut adalah :

  1. Nafyi (meniadakan).Contoh:

هَلِ الدَّهْرُ اِلاَّ غَمْرَةٌ وَانْجِلاَءُهَأ          وَشِيْكًا اِلاَّ ضِيْقَةٌ وَانْفِرَجُهَا؟

Artinya: “ Waktu itu tiada lain hanyalah datang dan perginya kesulitan dan silih bergantinya kesempitan dan kesempatan dengan cepat .”

 

 

Pada contoh di atas, maka kita dapatkan bahwa Al-Buhturi tidak menanyakan sesuatu kecuali ia hendak menyatakan bahwa zaman itu tiada lain adalah muncul tenggelamnya kesulitan dan silih bergantinya kesempitan dan kelonggaran. Jadi, kata hal dalam kalimat itu untuk nafyi (bermakna tidak ada).

  1. Inkar(penolakan).Contoh:

اَتَلْتَمِسُ اْلآَعْدَاءُ بَعْدَ الّذِيْ رَاَتْ          قِيَامَ دَلِيْلٍ اَوْ وُضُوْحِ بَيَانِ؟

Artinya: “Apakah musuh-musuh itu akan tetap menuntut bukti kemenangannya setelah mereka melihat tanda-tanda kemenangan itu dengan jelas?”

 

Pada contoh di atas, Abuth-Thayyib tiada lain mengingkari keraguan musuh terhadap kemenangan kafur dan tuntutanmereka terhadap bukti-bukti pertolongan Allah berupa kemenangan, sesudah mereka mengetahui bagaimana ia menundukkan setiap orang yang hendak menyerangnya dan bagaimana zaman menimpakan bencana kepada setiap orang yang bermaksud jahat kepadanya. Jadi, istifham pada kalimat tersebut tidak menunjukkan makna lain selain inkar.

  1. Taqrir (Penegasan).Contoh:

اَلَسْتُ اَعَمَّهُمْ جُوْدًا وَاَزْكَا          هُمُ عُوْدًا وَاَمْضَاهُمْ حُسَامَا

Artinya: “Bukankah anda adalah orang yang paling merata kemurahannya, paling sehat badannya, dan paling tajam pedangnya?”

 

Pada contoh di atas, Al-Buhturi tiada lain bermaksud memotifasi orang yang dipujinya untuk mengakui kebolehan yang didakwakan kepadanya, yakni mengungguli seluruh khalifah dalam hal kemurahan, kekuatan fisik, dan keberaniannya. Ia sama sekali tidak bermaksud bertanya kepada mukhathabnya tentang semua kebolehan tersebut. Jadi, istifham pada kalimat tersebnut bermakna taqrir (penetapan/penegasan).

  1. Taubih (Celaan).Contoh:

اِلاَمَ الْخُلْفُ بَيْنَكُمْ اِلاَمَا؟          وَهَذِى الضَّجَّةُ اْلكُبْرَى عَلاَمَا؟

Artinya “Sampai kemana persengketaan di antara kamu, sampai kemana? Dan keributan itu atas dasar apa?”

 

Pada contoh di atas, penyair mencela para mukhattabnya karena senantiasa bertengkar dan senantiasa saling menghina dan menjauhi. Di samping itu, ia menegur mereka atas keterlaluan mereka dalam berteriak-berteriak dan ribut. Jadi, redaksi istifham pada contoh tersebut telah keluar dari makna aslinya kepada taubih (celaan) dan taqri’(teguran).

  1. Ta’dzhim (mengagungkan/membesar-besarkan).Contoh:

Abuth-Thayyib berkata dalam sebuah ratapannya:

مَنْ لِلْمَحَافِلِ وَاْلجَحَافِلِ وَالسُّرَى          فَقَدَتْ بفَقْدِكَ نَيِّرًا لاَ يَطْلُعُ

 وَمَنِ اتَّخَذْتَ عَلَى الضُّيُوْفِ خَلِيْفَةً؟      ضَاعُوْا وَمِثْلُكَ لاَيَكَادُ يُضَيِّعُ

Artinya “Siapa lagi yang akan memimpim perkumpulan-perkumpulan, para prajurit, dan pejalan malam yang kehilangan obor karena kematianmu?”

 

Artinya Siapakah yang akan kau tunjuk sebagai penggantimu untuk menerima para tamu? Mereka telah tersia-sia, sedangkan orang seperti anda hampir-hampir tidak pernah menyia-nyiakan.

Pada contoh di atas, Abuth-Thayyib bermaksud mengagungkan dan menghormati orang yang diratapinya dengan menampakkan kebolehannya ketika masih hidup, yaitu sifat kebangsawanannya, keberaniannya,dan kemurahannya, sambil menampakkan kekecewaan dan kesakitan hatinya.

  1. Tahqir (Menghina).Contoh:

Abuth-thayyib berkata dalam suatu penghinaannya terhadap kafur:

مِنْ اَيَّةِ الطُّرْقِ يَأْتِى مِثْلُكَ اْلكَرَمُ؟          اَيْنَ اْلمَحَاجِمُ يَافُوْرُ وَاْلجَلَمُ؟

Artinya “Dari sudut mana kemuliaan datang kepada orang yang seperti anda? Wahai kafur, dimanakah botol-botol yang untuk membekam itu dan dimana pula sisir itu?”

Pada contoh di atas, dengan menghina Kafur, ia menyebutkan kekurangan , memegaskan kehinaan, dan merendahkan kemuliaannya.

  1. Istibtha (melemahkan semangat).Contoh:

حَتَّامَ نَحْنُ نُسَارِى النَّجْمَ فِىالظُّلَمِ؟          وَمَاسُرَاهُ عَلَى خُفٍّ وَلاَقَدَمِ

Artinya “Sampai kapan kita dapat mengejar bintang di tengah kegelapan? Sedangkan perjalanan bintang itu tanpa sepatu dan telapak kaki.”

 

  1. Ta’ajjub (mengagumi).

Abuth-thayyib berkata ketika terserang sakit panas (demam):

اَبِنْتَ الدَّهْرِ عِنْدِيْ كُلُّ بِنْتٍ          فَكَيْفَ وَصَلْتِ اَنْتِ مِنَ الزِّحَامِ

Artinya “Wahai putri zaman, seluruh putri telah ada padaku. Maka bagaimana engkau akan meraihku dari desakan putri-putri itu?”

 

 

  1. Taswiyah (menyamakan antara dua hal).Contoh:

Allah Swt. Berfirman:

 (#qä9$s% íä!#uqy™ !$oYø‹n=tã |Môàtãurr& ôQr& óOs9 `ä3s? z`ÏiB šúüÏàÏãºuqø9$# ÇÊÌÏÈ

Artinya Mereka menjawab, “ adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat.” (QS. Asy-Syu’ara’:136)

 

  1. Tamanni (harapan yang mustahil tercapai).Contoh:

Allah Swt. berfirman:

@ygsù $uZ©9 `ÏB uä!$yèxÿä© (#qãèxÿô±uŠsù !$uZs9 ÷

Artinya “Maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?” (QS. Al-A’raf:53)

 

  1. Tasywiq (mendorong mukhotob agar melakukan pesan yang disampaikan mutakalim).Contoh:

Allah Swt. berfirman:

ö@yd ö/ä3—9ߊr& 4’n?tã ;ot»pgÏB /ä3ŠÉfZè? ô`ÏiB A>#x‹tã 8LìÏ9r& ÇÊÉÈ

Artinya “Apakah kamu suka aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?” (QS. Ash-Shaff:10)

 

  1. B.  Tamanni

Tamanni adalah mengharapkan sesuatu yang tidak dapat diharapkan keberhasilannya, baik karena memang perkara itu mustahil terjadi, atau mungkin terjadi namun tidak dapat diharapkan tercapainya.contoh:

ياليت لنا مثل ما اوتي قا رون انه لذو حظ عظيم

artinya:

“ingin rasanya kami memiliki apa yang diberikan kepada qorun, sesungguhnya dia benar- benar memperoleh keberuntungan yang benar”(QS. al- Qashash: 79)

Dalam ilmu terminologi ilmu balaghoh tamani adalah:

طلب اشيء المحبوب الذي لا يرجى ولا يتوقع حصوله

“menuntut sesuatu yang diinginkan, akan tetapi tidak mungkin terwujud. ketidak mungkinan terwujudnya sesuatu itu bisa terjadi karena mustahil terjadi atau juga sesuatu yang mungkin akan tetapi tidak maksimal dalam mencapainya”.[3]

Contoh tamanni yang mustahil terjadi:

  1. Ibnur- Rumi berkata tentang bulan Ramadhan:

فَلَيْتَ الَّليلَ فِيْهِ كَانَ شَهْرًا          وَمَرَّ نَهَارُهُ مَرَّ السَّحَابِ

Artinya “Maka alangkah baiknya jika satu malam bulan Ramadhan itu lamanya sebulan, sedangkan siangnya berjalan secepat perjalan awan.”

  1. Allah Swt. Berfirman:

@ygsù….. $uZ©9 `ÏB uä!$yèxÿä© (#qãèxÿô±uŠsù !$uZs9 ….

Artinya:“Maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami?” (QS. Al-A’raf:53)

 

  1. Jarir berkata:

وَلَّى الشَّبَابُ حَمِيْدَةً اَيَّامُهُ          لَوْ كَانَذَالِكَ يُشْتَرَى اَوْ يَرْجِعُ

Artinya: “Telah berlalu masa muda yang hari-harinya terpuji.(Alangkah indahnya) seandainya masa itu dapat dibeli atau dapat kembali.”

 

  1. Penyair lain berkata:

اَسِرْبَ اْلقَطَاهِلِ مَنْ يُعِيْرُ جَنَاحَهُ          لَعَلِّى اِلَى مَنْ قَدْ هَوَيْتُ اَطِيْرُ

Artinya: “Wahai kawanan burung qatha (mirip merpati), siapakah yang mau meminjamkan sayapnya supaya aku dapat terbang kepada orang yang aku cintai?”

 

Contoh tamanni yang mungkin terjadi namun tidak dapat diharapkan tercapainya:

|Mø‹n=»tƒ….. $oYs9 Ÿ@÷WÏB !$tB š†ÎAré& ãbr㍻s% ….

Artinya: “Aduhai, seandainya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun.” (QS. Al-Qashash:79)

 

Kata-kata yang menunjukkan makna tamanni pada contoh-contoh di atas adalah laita, hal, lau dan la’alla. Hanya saja laita memang sejak semula menunjukkan makna tersebut. Adapun hal, lau dan la’alla atas dasar pertimbangan makna balaghah.

Dan seandainya sesuatu yang diharapkan itu mungkin terjadi dan dapat diharapkan keberhasilannya, maka pengharapannya disebut sebagai tarajji. Dan kata yang dipergunakan untuk makna tarajji adalah la’alla dan ‘asaa. Kadang-kadang dipakai juga kata laita atas dasar pertimbangan makna balaghah, sebagaimana dalam syair Abuth-Thayyib:

فَيَالَيْتَ مَابَيْنِى وَبَيْنَ اَحِبَّتِى          مِنَ اْلبُعْدِ مَابَيْنِى وَبَيْنَ اْلمَصَائِبِ

Artinya: “Maka alangkah indahnya seandainya jarak antara aku dan kekasihku itu sama dengan jarak antara aku dan muisibah-musibah yang menimpaku.”

  1. Nida’ (panggilan)

Nida’ adalah طلب الاقبال minta di hadapi, seperti: يا رب ارزقنى [4]. Secara leksikal nida artinya panggilan. Sedangkan dalam terminologi ilmu balaghoh, nida’ adalah:     النداءهوطلب الاقبا لبحرف ناء ب منا ب “انادى” ” ادعو” المنقول من الخبر ال الا نشاء الاختصاص

Artinya:

“Nida’ adalah tuntutan mutakalim yang menghendaki seseorang agar menghadapnya. Nida’ menggunakan huruf yang “ unadi” atau “ ad’u” yang susunanya dipindah dari kalam khobayi menjadi kalam insyai.[5]

Huruf-huruf nida’ itu ada delapan, yaitu: hamzah (أ), ay (أَيْ), yaa (يَا), aa (آ), aay (آيْ), ayaa (اَيَا), hayaa (هَيَا), dan waa (وَا). Hamzah dan ay untuk memangil munada yang dekat, sedangkan huruf nida’ yang lain untuk memanggil munada yang jauh.

Kadang-kadang munada yang jauh diaggap sebagai munada dekat,lalu di panggil dengan huruf nida’ hamzah dan ay. Hal ini merupakan isyarat atas dekatnya  munada dalam hati orang yang memanggilnya. Contoh:

امالك رق ومن شأنه         #  هبات اللجين وعتق العبيد

دعوتك عند انقطاع الرجا  #  ء  والموت مني كحبل الوريد

Wahai pemilik kehambaanku, dan (wahai)orang yang bertabiat memberikan perak dan memerdekakan hamba.

Aku memanggilmu ketika tidak ada lagi harapan, sedangkam kematian bagiku seperti urat nadi.

Dan kadang-kadang munada yang dekat dianggap sebagai munada yang jauh, lalu dipanggil dengan huruf nida’ selain hamzah dan ay. Hal ini sebagai isyarat atas ketinggian derajat munada, atau kerendahan martabatnya, atau kelalaian dan kebekuan hatinya.Contoh:

  1. Abu Nawas berkata:

اياجامع الدنيالغيربلاغة # لمن تجمع الدنياوانت تموت

Walau orang yang menghimpun dunia tanpa batas, untuk siapakah engkau menghimpun harta, sedangkan engkau bakal meninggal?”

 

Munada pada contoh di atas itu sangat mulia dan disegani. Jadi, seakan-akan kejauhan derajat keagungan itu sama dengan jauhnya jarak perjalanan. Oleh karena itu, si pembicara memilih huruf yang disediakan untuk memanggil munada yang jauh untuk menunjukkan ketinggian itu.

  1. Al-Faradzaq menyombongkan nenek moyangnya dan menghina Jarir:

 أُولَئِكَ آبَائِى فَجِئْنِى بِمِثْلِهِمْ          اِذَا جَمَعَتْ يَاجَرِيْرُ اْلمَجَامِعُ

Artinya: “ Inilah nenek moyangku, maka tunjukkanlah kepadaku orang-orang seperti mereka ketika pada suatu saat kita bertemu daklam suatu pertemuan, wahai Jarir.”

Pada contoh di atas menurut penilain si pembicara munada-nya rendah kedudukannya, seakan-akan perbedaan dereajat munada yang jauh di bawah pembicara itu sama dengan jarak yang jauh di antara tempat mereka.

  1. Penyair lain berkata:

أَيَاجَامِعَ الدُّنْيَا لِغَيْرِ بَلاَغَةٍ          لِمَنْ تَجْمَعُ الدُّنْيَا وَاَنْتَ تَمُوْتُ؟

Artinya: “ Wahai orang yang menghimpun dunia tanpa batas, untuk siapakah engkau menghimpun harta, sedangkan engkau bakal meninggal?”

 

Pada contoh di atas mukhathabnya lalai dan tidak tentu arah sehingga ia seakan-akan tidak hadir bersama si pembicara dalam satu tempat.

Penyimpangan makna nida’ dari makna asli kepada makna yang lain dan dapat diketahui dari beberapa karinahnya.di antara makna lain tersebut adalah:

  1. Teguran atau peringatan keras, seperti ucapan syair :

يَاقَلْبُ وَيْحَكَ مَاسَمِعْتَ لِنَاصِحٍ          لَمَّاارْتَمَيْتَ وَلاَاتَّقَيْتَ مَلاَمَا

Artinya: “Wahai hati, celaka kamu tidak mau mendengarkan orang yang mau mendengarkan orang yang menasehatimu ketika kau tersudutkan dan tidak dapat menghindari celaan.”

  1. Menampakkan keresahan dan kesakitan, seperti ucapan syair :

أَيَاقَبْرَ مَعْنٍ كَيْفَ وَارَيْتَ جُوْدَهُ          وَقَدْ كَانَ مِنْهُ اْلبَرُّ وَاْلبَحْرُ مُتْرَعَا

 

Artinya: “Wahai kubur ma’n, bagai mana kamu menutupi kemurahanmu, padahal daratan dan lautan dapat berkumpul karenanya”

  1. Anjuran, seperti perkataan yang disampaikan kepada orang yang menghadap karena teraniyaya:”wahai yang teraniyaya, bicaralah!”

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Akhdori, Imam. 1982. Ilmu Balaghoh Terjemah Jauhar Maknun. Bandung: PT Al-Ma’arif

Al-Jarim, Ali Dkk. 2011. Terjemah Al-Balaghotul Waadhihah. Bandung: Sinar Baru Algensido

Zainuddin, Mamat, dkk. pengantar ilmu balaghoh.

 


[1] Akhdori, Imam. 1982. Ilmu Balaghoh Terjemah Jauhar Maknun. Bandung: PT Al-Ma’arif

[2] Al-Jarim, Ali Dkk. 2011. Terjemah Al-Balaghotul Waadhihah. Bandung: Sinar Baru Algensido.

[3] zainuddin, mamat, dkk. pengantar ilmu balaghoh..hal: 106.

[4] Akhdori, Imam. 1982. Ilmu Balaghoh Terjemah Jauhar Maknun. Bandung: PT Al-Ma’arif

[5]  Al-Jarim, Ali Dkk. 2011. Terjemah Al-Balaghotul Waadhihah. Bandung: Sinar Baru Algensido

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s